Beranda News Industri Plastik Masih Menunggu Bea Masu...
Industri Plastik Masih Menunggu Bea Masuk Bahan Baku 0%, Apa Dampaknya?
Tips & Info 29 September 2026

Industri Plastik Masih Menunggu Bea Masuk Bahan Baku 0%, Apa Dampaknya?

Industri plastik hilir Indonesia masih menghadapi tekanan biaya. Di tengah kenaikan beban produksi dan kebutuhan pembiayaan yang semakin diperhatikan, pelaku industri kini menunggu kepastian mengenai rencana pemberlakuan bea masuk 0% untuk impor bahan baku plastik.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu industri menekan biaya produksi. Namun hingga akhir September 2026, rencana bea masuk 0% untuk bahan baku plastik yang diharapkan pelaku industri tersebut belum terealisasi.

Kondisi ini menjadi perhatian karena bahan baku merupakan salah satu komponen utama dalam struktur biaya industri plastik, termasuk produk yang pada akhirnya digunakan untuk berbagai kebutuhan kemasan makanan, minuman, dan sektor usaha lainnya.

Industri Plastik Masih Menghadapi Tekanan Biaya

Mengutip Bisnis.com, industri plastik hilir berharap rencana bea masuk impor bahan baku sebesar 0% dapat segera direalisasikan. Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap biaya produksi dan beban keuangan perusahaan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (Aphindo), Henry Chevalier, menyampaikan bahwa sejumlah emiten di sektor plastik hilir mengalami kenaikan Cost of Goods Sold (COGS) pada semester I 2026.

Berdasarkan laporan yang dikutip Bisnis.com, kenaikan COGS sejumlah perusahaan plastik berada pada kisaran 12% hingga 52% dibandingkan periode sebelumnya. Pada saat yang sama, utang bank jangka pendek juga mengalami peningkatan secara double digit pada sejumlah perusahaan.

Tekanan tersebut membuat efisiensi biaya menjadi semakin penting bagi pelaku industri plastik, terutama ketika perusahaan juga harus menghadapi kondisi pasar dan biaya pendanaan yang berubah.

Kenapa Bea Masuk Bahan Baku Menjadi Perhatian?

Produksi berbagai produk plastik sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku seperti polypropylene (PP), polyethylene (PE), dan resin plastik lainnya. Perubahan harga bahan baku dapat memberikan pengaruh langsung terhadap biaya produksi.

Selain harga bahan baku, industri juga menghadapi faktor lain seperti harga minyak, pasokan bahan petrokimia, nilai tukar rupiah, biaya energi, serta biaya logistik.

Karena itu, ketika salah satu komponen biaya mengalami kenaikan, produsen harus melakukan penyesuaian agar kegiatan produksi tetap berjalan tanpa membuat harga produk menjadi terlalu berat bagi pelanggan.

Harga Resin dan Kondisi Global Ikut Berpengaruh

Persoalan bahan baku plastik juga tidak terlepas dari kondisi pasar global. Dalam laporan Bisnis.com, analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan naphtha dapat merambat hingga ke harga resin yang digunakan oleh produsen kemasan plastik.

Di sisi lain, industri plastik Indonesia juga menghadapi persaingan dari produk impor. Kondisi oversupply di China menjadi salah satu tantangan karena produsen di negara tersebut dapat menawarkan produk dengan struktur biaya yang kompetitif.

Artinya, produsen plastik dalam negeri harus menghadapi dua sisi tekanan sekaligus: biaya produksi yang perlu dikendalikan dan persaingan harga yang semakin ketat.

Bea Masuk 0% Sudah Ada, tetapi Bukan untuk Semua Bahan Baku Plastik

Perlu dibedakan antara rencana bea masuk 0% untuk bahan baku plastik yang saat ini masih ditunggu industri dengan kebijakan bea masuk 0% yang sudah diterbitkan pemerintah untuk sektor tertentu.

Pada Juli 2026, pemerintah menerbitkan PMK Nomor 50 Tahun 2026 sebagai bagian dari Paket Stimulus Ekonomi Semester II 2026. Salah satu fasilitasnya adalah tarif bea masuk 0% untuk impor LPG yang digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia.

Menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, fasilitas tersebut berlaku selama enam bulan untuk perusahaan industri petrokimia yang memenuhi ketentuan yang ditetapkan.

Namun, fasilitas tersebut berbeda dengan bea masuk 0% untuk bahan baku plastik yang saat ini masih menjadi harapan industri plastik hilir.

Jika Bea Masuk Bahan Baku Plastik Turun, Apa Dampaknya?

Apabila kebijakan bea masuk 0% untuk bahan baku plastik nantinya direalisasikan, salah satu dampak yang diharapkan industri adalah berkurangnya tekanan terhadap biaya produksi.

Biaya bahan baku yang lebih efisien dapat memberikan ruang bagi produsen untuk mengatur kembali struktur biaya, menjaga kapasitas produksi, dan mempertahankan daya saing di tengah persaingan pasar.

Namun, penurunan bea masuk tidak otomatis berarti seluruh harga produk plastik akan langsung turun. Harga produk akhir masih dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk harga resin global, nilai tukar, energi, logistik, permintaan pasar, dan biaya operasional perusahaan.

Bagaimana Dampaknya bagi Bisnis Kemasan?

Perubahan biaya di industri plastik juga menarik diperhatikan oleh pelaku usaha yang menggunakan kemasan plastik dalam jumlah besar. Restoran, katering, UMKM makanan dan minuman, toko, hingga bisnis online membutuhkan kemasan sebagai bagian dari kegiatan operasional sehari-hari.

Bagi distributor plastik dan kemasan, perkembangan harga bahan baku menjadi salah satu faktor yang perlu dipantau karena dapat memengaruhi harga dari produsen dan dinamika rantai pasok.

Namun dalam praktiknya, harga kemasan tidak hanya ditentukan oleh harga bahan baku. Ketersediaan stok, biaya produksi, distribusi, volume pembelian, dan kondisi permintaan juga ikut menentukan harga di pasar.

Industri Masih Menunggu Kepastian Kebijakan

Bagi industri plastik hilir, kepastian regulasi menjadi salah satu hal yang penting untuk perencanaan bisnis. Dengan kebijakan yang jelas, perusahaan dapat memperkirakan kebutuhan bahan baku, produksi, pembiayaan, hingga strategi harga secara lebih terukur.

Perkembangan mengenai bea masuk bahan baku plastik juga layak diperhatikan oleh pelaku usaha di sepanjang rantai industri, mulai dari produsen bahan baku, manufaktur plastik, produsen kemasan, distributor, hingga pengguna kemasan.

Untuk bisnis yang membutuhkan kemasan plastik dan berbagai kebutuhan packaging, MultiPlastik sebagai distributor plastik di Surabaya menyediakan berbagai pilihan kemasan untuk kebutuhan usaha dan industri.

Kesimpulan

Industri plastik hilir masih menunggu realisasi kebijakan bea masuk 0% untuk bahan baku plastik. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan biaya di tengah kenaikan COGS, kebutuhan pembiayaan, serta persaingan produk plastik global.

Sementara itu, pemerintah telah memberikan fasilitas bea masuk 0% untuk LPG yang digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia melalui PMK Nomor 50 Tahun 2026. Perkembangan kebijakan selanjutnya akan menjadi perhatian karena biaya bahan baku memiliki hubungan erat dengan daya saing industri plastik dan rantai pasok kemasan di Indonesia.

Sumber:

Bisnis.com – Terimpit Beban, Industri Plastik Menanti Bea Impor Bahan Baku 0%

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian – Paket Stimulus Ekonomi Semester II Tahun 2026

Artikel Terkait:

Aturan Baru BPA pada Kemasan Pangan, Apa Dampaknya bagi Industri Plastik?

Distributor Plastik Surabaya: Supplier Plastik Kemasan untuk Berbagai Kebutuhan Bisnis

Hashtag:

#MultiPlastik #DistributorPlastik #DistributorPlastikSurabaya #IndustriPlastik #BahanBakuPlastik #HargaPlastik #KemasanPlastik #BisnisKemasan #PlastikIndonesia #SupplierPlastik #PP #PE #PlastikSurabaya

Hubungi Kami